Berkeliling Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta

Siang  itu udara menujukan temperatur yang biasa. Namun, saya berulang kali mengelap keringat yang bercucuran dengan tangan. Hampir saja saya membawa ember kecil untuk menampung sungai keringat yang sempat beranak cucu itu. Dengan senyum sedikit kecut, kemudian saya terpaksa membeli air minum kemasan pada penjual disekitar Benteng yang telah berusia sama dengan masa penjajahan Belanda di bumi Nusantara ini.

Langkah saya terhenti di bagian depan benteng. Sebuah pagar kuno khas bangunan Belanda menyambut saya dengan kokohnya seakan menunjukan betapa kuat dan terawatnya bangunan ini. Kamera pun tak luput dari tangan saya ketika hendak merekam adegan dua orang teman saya yang lebih dahulu masuk ke dalam gerbang benteng. Seorang dengan kain penutup kepala dan kaca mata hitam, dan seorang lainnya hanya berkaca mata, namun keduanya menyatu dalam sebuah payung.

Gerbang Utama Benteng Vredeburg
Kemudian beberapa saat kemudian saya menyusul dengan langkah seribu menuju gerbang benteng. Di dalam gerbang, terdapat loket pembelian tiket yang menyebutkan nominal harga tiket masuk. Di sisi samping sebelah kanan, terdapat infomasi hari dan jam buka benteng. Teman saya bergegas membeli tiga buah tiket. Dan, beberapa menit kemudian kami telah berada di tengah bangunan bernama Benteng Vredenburg.
  


Sejarah Benteng Vredeburg

Vredebrug memiliki makna ‘Perdamaian
Sebelum bernama Benteng Vredeburg, pada saat pembangunannya oleh Belanda dengan ijin Sultan Hamungkubuwono I, benteng tersebut bernama ‘Rustenburg’ yang memiliki arti sebagai ‘Benteng Peristirahatan’. Sekitar tahun 1765-1788, benteng tersebut kemudian disempurnakan dan dirubah menjadi ‘Benteng Vendeburg’, yang mempunyai arti sebagai ‘Benteng Perdamaian’. Memiliki luas sekitar 2.100 meter persegi, bangunan tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan Belanda. Benteng memiliki empat sisi yang sama, dan pada masing-masing sudut memiliki menara untuk berjaga-jaga dan mengintai kegiatan keraton dan pergerakan masyarakat di kala itu.


Benteng Vredebrug mengalami beberapa masa penjajahan Belanda dan Jepang, bahkan menjadi saksi bisu saat kemerdekaan terjadi pada tahun 1945. Barulah pada 1980, atas ijin Sultan Hamungkubuwono IX, Benteng Vredebrug ditetapkan sebagai pusat pengembangan budaya nusantara. Puncaknya pada tanggal 23 November 1992 resmi ditetapkan sebagai Museum Benteng Vredeburg. Museum ini memiliki koleksi diorama perjuangan dari masa penjajahan hingga orde baru.


Diorama

Terdapat 4 bagian diorama di Museum Benteng Vredeburg
Diorama terdiri dari 4 bagian yang dipisahkan dalam 2 gedung yang berbeda. Ketika saya memasuki gerbang dan kemudian masuk, saya berbelok ke kanan, yang berisikan 2 bagian diorama. Setiap diorama mewakili waktu atau periode yang dikisahkan dalam dioramanya. Disamping itu, terdapat beberapa patung, lukisan, grafik, dan layar sentuh yang memudahkan saya untuk berinteraksi dan merasakan perjuangan pada masa tersebut.

Beberapa koleksi diorama 

Yang menarik dari diorama ini adalah sebuah jalinan cerita yang menyatu dari satu adegan ke adegan lain, dari awal masa perjuangan melawan penjajah sampai dengan masa kemerdekaan dan pembangunan.

Levitasi

Langit biru itu tampak beradu dengan awan yang putih. Kemudian, tak satu pun awan tebal yang menghalangi pemandangan dua buah patung yang berdiri kokoh saat itu. Salah satu dari dua patung itu merupakan pejuang sejati, bukan berarti satu patung lain bukan pejuang juga, namun namanyalah yang telah terpatri di benak bangsa ini. Bapak Jenderal Sudirman. Hampir seluruh orang mengetahuinya, pun jalan-jalan protokol di berbagai daerah mengabadikan nama besar tersebut. 
Merasakan sensasi melayang dengan setengah tubuh terbang  ke udara itu menyenangkan. Sensasi itu mungkin hanya bisa dirasakan sang superhero seperti superman atau pada saat berada dalam sebuah pesawat yang akan lepas landas menuju angkasa. Nah, ada sebuah rasa yang bisa dirasakan dengan sebuah foto dan sedikit lompat, maka sebuah foto levitasi pun sudah mengambarkan sensasi melayang diudara.
Dengan satu lompatan yang stabil, dan sebuah kamera saja, foto levitasi pun telah didapat. Apalagi dengan sebuah background yang menampilkan langit biru, awan putih, sebuah benteng yang kokoh, dua buah pahlawan dan seorang yang terbang bebas melayang. Go ! Fly !
Bersedia ! Go !
And Fly 

Fasilitas

Selain terdapat benteng dan diorama, juga terdapat berbagai macam kelengkapan museum seperti perpustakaan, ruang audio visual, ruang pertunjukan mushola, dan fasilitas lainnya. 

Alamat Museum Benteng Vredeburg
Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 6
Yogyakarta
Telepon : (0274) 586934

Jam Buka Museum
Selasa – Minggu : 07.30 – 16.00 WIB
Senin dan Hari Libur Nasional : ‘TUTUP’

Harga Tiket Masuk
Dewasa : Rp 2.000,-
Anak-anak : Rp 1.000,-
(Harga per 2015)

32 thoughts on “Berkeliling Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta”

  1. Dulu pas magang di jogja, aku sering lewat sini, tapi belum pernah masuk ke dalamnya. Untungnya nggak mampir ya, aku takut lihat patung2 gitu soalnya… T___T

  2. ya ampuuun, bolak balik ke Yogyakarta, kok bisa tak sekalipun mampir di sini. #selftoyor. Sampe lupa2 ingat, daerah mana letak museum ini. Dari Stasiun Tugu, ke arah mana mas? dekatkah?

  3. @Mba Donna, hihihi iya Mba banyak yang ngga ngeh kalo disini ada benteng yang bagus

    Jalau dari stasiun tugu, terus jalan aja sampai menyusuri malioboro kemudian melewati pasar, dan persis tak jauh dari pasar, itulah bentengnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *