Dibalik Festival Dieng

Sebuah perjalanan adalah sebuah yang tak akan habis apabila diceritakan pada satu babak saja, sebuah perjalanan yang sama akan memiliki sudut pandang yang berbeda hanya karena masa dan rasa yang tak sama.
Dieng, salah satu saksi yang membawa saya kedalam sebuah cerita berbeda. Entah, saya bisa menyebutnya sebagai peristiwa sengsara membawa mirip dengan judulnya, aslinya memang diperankan oleh Desy Ratnasari dan Sandy Nayoan yang mengangkat cerita bumi Minang, nah, mungkin sayalah yang memerankan cerita sengsara membawa nikmat pada episode Dieng ini.
Masa lalu saya pun terlintas ketika pengajar les Bahasa Inggris saya di SMA mengajak kami (saya dan teman les) mengunjungi beberapa tujuan wisata di Jawa Tengah, yaitu Candi Sewu dan dataran tinggi Dieng, hanya untuk menguji kemampuan bahasa Inggris kami. Untuk menuju lokasi tersebut, pengajar kami tak menyewa sebuah bus pariwisata yang lengkap dengan supir dan pemandu, namun kami pun naik dari satu bus ke angkutan umum yang lain. Kami pun menuruti saja, tanpa protes.
Saya merasakan backpacker untuk pertama kalinya pada saat itu, dan hal itulah yang melekat sampai saat ini. Banyak hal yang dapat di petik, misalnya saja, beberapa hotel yang kami tinggali pun harus sharing dengan teman lain sesama pejalan, ngobrol dengan turis asing dengan bahasa Inggris dan menikmati dinginnya dataran tinggi Dieng.

Dieng Culture Festival 

Rupanya, saya akan mengulanginya pada saat menghadiri Dieng Culture Festival tahun lalu. Cerita yang serupa namun beda waktu dan cerita. Ceritanya bermula dari beberapa teman yang mengajak saya untuk menghabiskan pekan di Dieng dengan ragam budayanya di Dieng Culture Festival. Banyak event yang sangat saya nantikan terutama pemotongan rambut gimbal dan jazz di atas awan. 
Petaka itu muncul ketika malam itu kami melakukan perjalanan di malam hari, yang dimaksudkan untuk datang tepat di pagi hari waktu Dieng, untuk menikmati serangkaian acara yang telah di persiapkan oleh pantia. Namun, ketika pagi menjelang bahkan matahari pun tekah berada di titik tengah, kami masih berjalan ke arah Dieng. Dan, sialnya bus yang kami tumpangi mengalami mogok di tengah perjalanan naik ke dataran tinggi Dieng. Sempat hopless dengan kondisi saat ini karena acara yang sudah di jadwalkan telah berjalan, sedangkan kami masih dalam kondisi mogok.
Dan, keajaiban muncul ketika, salah satu bus yang di sewa pun muncul membawa kami ke puncak Dieng. Ternyata, penderitaan itu masih mendera, jalan yang dilalui pun melambat dan mengekor karena jalur yang digunakan pun dipadati kendaraan lain dengan tujuan sama, Dieng. Matahari mulai meredup ketika kami menginjakan kaki di penginapan yang di sediakan panitia dan tour travel. Nampaknya lelah dan kebosanan mendera kami. Bahkan, air untuk mandi pun agak tersendat. benar-benar sengsara nasib kami.
Namun, Festival lampion dan jazz di atas awan mengalahkan keletihan dan kelelahan, semangat masih ada dalam lubuk ini. Apalagi dengan tersitanya waktu perjalanan tersebut, kami tak mau merugi lagi. 
Lampion dan harapan itu diterbangkan ke angkasa, saya merasakan aura magis pada pelepasan beberapa lampion itu ke angkasa, warna-warni lampion itu pun menghias malam yang berbintang. Dengan hiasan kembang api ke udara, lampion itu pun terbang membawa pesan kami, pesan yang ingin menyatakan rasa syukur kami malam ini karena bisa menyaksikan keindahan langit angkasa malam itu. Bahkan, kami larut bersama ribuan yang memanjatkan doa yang sama, dan ingin menyaksikan keindahannya tahun depan lagi, lagi dan lagi.
Suhu malam itu rupanya sangat mengigit kulit, hampir di pastikan suhunya menyentuh angka dibawah 15 derajat celcius. Alunan lagu-lagu yang dibawakan oleh beberapa musisi pun membawa saya larut bersama ribuan orang disana. Meriah dan menyajikan pertunjukan dengan efek lampu yang sangat spektakuler. Beruntung sekali saya hadir malam itu.
Keesokan harinya, sepertinya kami tak mau kecolongan lagi, kami telah siap dan berada di pelataran candi Pandawa, tempat pelaksanaan pencukuran rambut gimbal oleh tetua dari daerah Dieng. Luar biasa animo yang dapat saya rasakan. Hampir seluruh media baik dalam maupun luar negeri pun larut dalam ritual yang telah turun-temurun dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Permintaan dari pemilik rambut gimbal pun terbilang unik, ada yang meminta mainan yang dimiliki tetangga, es krim rasa cokelat sekeranjang, sepeda, televisi bahkan ada yang meminta hal sepele seperti baju baru. Rata-rata usia yang berambut gimbal dan melalukan ritual tersebut dari lima sampai belasan tahun. Ritual tersebut sangat diminati oleh masyarakat termasuk saya.
Perjalanan pulang, ternyata bus yang mogok pada saat kami berangkat telah diperbaiki. Dengan jaminan bahwa tak akan mogok lagi, kami berangkat. Namun, ternyata hasil akhirnya, pada saat masuk tol Jawa Tengah menuju Jawa Barat, bus tersebut mogok. 
Bus malam jurusan salah satu kota di Jawa Tengah ke Jakarta akhirnya membawa puluhan dari kami. Akhirnya, kami sampai di Jakarta dengan kelelahan karena jalur yang seharusnya di lalui pun melebar dari yang kami perkiraan karena kami menaiki bus umum.
Sebuah pengalaman yang begitu berkesan, disamping sengsara yang kami dapatkan, namun kami memiliki kenangan bersama teman-teman senasib sepenanggungan pada saat senang dan susah bersama. Benar-benar sengsara yang membawa nikmat.
Begitulah cerita saya tentang Dieng yang membuat saya memiliki dua kenangan yang berbeda namun memiliki sebuah benang merah dan perikatan kuat. Mungkin Tuhan telah merencanakan hal lainnya, pastinya hal yang menyenangkan tentunya. Amin.

20 thoughts on “Dibalik Festival Dieng”

  1. ow ow ow…. kita berada di tempat yang sama berarti waktu itu ya. Aku menikmati sekali moment itu. Dua kali ke Dieng dan salah satunya pas festival itu rasanya puas banget. Kangen Dieng euy…Dieng is the best

  2. Aku ke Dieng gak barengan festival puncak ini. Jadi cuma menikmati pemandangan dan museumnya saja. Enaknya ya sepi, gak desak-desakan pas seperti acara Festival. Gak enaknya ya gak lihat upacara motong rambut 🙂

  3. Kesengsaraan dan perjuangan dalam perjalanan menuju acara yang dinanti-nanti pasti akan memberikan kontemplasi diri. Dieng bukanlah tempat yang bisa dituju dengan mudah, tapi semangat Mas Salman tidak pernah luntur. Kebosanan boleh ada, tapi semangat dan tekad tak boleh padam 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *