Bluepacker Indonesia - Papua

Papua, Surga Hijau Di Indonesia Timur

Ketika mendapatkan kabar dari rekan kerja bahwa saya akan berangkat ke Papua tentu saja kaget dan tidak menyangka sama sekali. Mungkin ini adalah kesempatan mengunjungi bagian Indonesia paling Timur dengan keindahan dan kehijauannya.
 
“Jadi sebelum ke Raja Ampat kamu mesti minum pil kina.”
 
Corina, rekan kerja saya memberikan penjelasan bahwa Papua memang masih pandemi malaria, jadi kita harus berjaga-jaga sebelum berangkat. Dan, satu hal yang bikin saya melayang adalah Raja Amat. Siapa sih yang tidak ingin berwisata ke gugusan pulau paling indah di Indonesia ini? Dan, ternyata ini benar terjadi, bukan mimpi lagi.
 
“Terus, setelah minum pil kina. Apalagi yang perlu dipersiapkan?”
 
“Jangan lupa bawa lotion anti nyamuk ya. Dan, yang paling penting adalah bawa kamera sama baju buat renang.”
 
Saya terawa. Di benak saya hanya ada gugusan pulau dengan pemandangan pantai yang indah.
 
“Kita kerja ya, tapi bisa sambil liburan juga karena depan mess kita ya udah pantai gitu.”
 
Oke, memang tujuan utama saya saat ini adalah kerja, namun bisa menikmati pemandangan indah di Raja Ampat. Namun, inilah salah satu destinasi impian yang akhirnya terwujud juga. Papua, here i come.
Bluepacker Indonesia - Papua
 
Penerbangan dari Jakarta menuju ke Papua ditempuh sekitar 4 jam dengan transit di Makassar, Sulawesi Selatan. Bisa dibilang beberapa pesawat dari wilayah Barat Indonesia yang ingin menuju Timur berhenti sejenak di Bandara transit ini. Jangan bertanya-tanya kenapa harus transit, karena ini memang peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam. sekarang ini bisa dijumpai rute penerbangan langsung dari Jakarta menuju Papua.
 
Lagi-lagi saya merasa beruntung, bagaimana tidak, Saya pun belum pernah menginjakan kaki secara langsung di pulau Sulawesi. Dengan pesawat transit ini, saya resmi menjejakan kaki di Sulawesi. Bagi saya hal-hal yang sederhana seperti inilah yang membuat saya sering mengucapkan syukur atas pencapaian yang belum tentu bisa dilakukan semua orang termasuk mengunjungi pulau yang dihuni burung dari surga, Cenderawasih, Papua.
 
Saya hanya sempat berfoto-foto sebentar dan kembali melakukan cek in dan melanjutkan perjalanan dengan pesawat yang lebih kecil dari sebelumnya. sebetulnya saya merasa agak cemas, karena Corina sempat memberi gambaran pesawat apa yang akan saya naiki nanti.
 
“Ini nih, pesawatnya Man.”
 
Corina menujukan gambar pesawat kecil dan beberapa diantaranya mengalami nasib naas yaitu menabrak bukit.
 
“Beneran?”
 
Corian tertawa. Saya pun tersenyum kecut sambil mengumpulkan nyali untuk menghadapi kenyataan nanti.
 
Dan, ternyata pesawat kecil itu pun tak nyata. Betul memang sebelumnya rute ini mengunakan pesawat yang lebih kecil, namun sekarang telah berubah menjadi pesawat boing yang lebih besar dan jauh dari gambaran lalu.
 
Saya menghela napas tanda satu persatu kepanikan mulai hilang. Dan, sekarang saatnya istirahat dan memejamkan mata sambil bermimpi di tepi pantai diantara gugusan pulau di Raja Ampat.
 
Bluepacker Indonesia - Papua
Kapal cepat dari Sorong ke Waeigo
Bluepacker Indonesia - Papua
 
Perjalanan ke Raja Ampat memang panjang, namun bagi saya ini adalah sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan sampai kapan pun. Setelah naik pesawat, perjalanan selanjutnya adalah naik kapal express menuju Pulau Waigeo, salah satu pulau terbesar dari gugusan pulau di Raja Ampat. Setelah itu barulah kami menaiki kapal boat kecil yang dapat menampung sekitar belasan orang.

Sepanjang perjalanan, sebetulnya saya sangat takut bertemu dengan buaya, karena banyak sekali pertemuan antara air sungai dengan air laut yang sangat disenangi oleh buaya. Tapi ketakutan saya tidak terjadi, malahan saya asyik berfoto dan menikmati matahari yang hampir tenggelam di Raja Ampat. Ini salah satu momen terbaik karena bisa menyaksikan Sunset untuk pertama kalinya di Raja Ampat, Papua.

Bluepacker Indonesia - Papua

Kata orang, tak lengkap rasanya jika sudah pernah ke Jakarta dan Bali yang mewakili Indonesia bagian Barat dan Tengah, tanpa mengunjungi Papua sebagai simbol dari Indonesia Timur. Dan, pada hari itu juga, rasanya hari itulah hari terbaik yang penah saya rasakan dibawah langit Papua yang sedikit demi sedikit mulai menghitam karena matahari pun sebentar lagi mulai tenggelam.
 
Setelah itu hari-hari saya lalu dengan beberapa hal yang harus dikerjakan seperti mengecek kantor, pembukuan dan produk yang dihasilkan seperti mutiara. Iya, klien saya ini menghasilkan produk mutiara untuk perhiasan dan salah satu tempat untuk menghasilkan produk mutiaranya adalah di teluk Alyui.
 
Kabar baiknya adalah saya dan Corina dapat melihat secara langsung kegiatan panen mutiara dilaut lepas disekitar Alyui. Tentu saja ini akan menjadi kegiatan yang menyenangkan serasa sedang liburan saja, bahkan ketika liburan pun belum tentu mendapatakn momen yang luar biasa seperti ini.

Bluepacker Indonesia - Papua

Selain itu kegiatan kami adalah menikmati pantai dan bercengkrama dengan Orang Papua Asli karena sebagian besar pekerja disana berasal dari Papua. Ada yang dari Sorong, Waigeo dan lainnya. Anak-anak kecil pun senang diajak ngobrol meskipun sebetulnya masih malu-malu karena tidak percaya diri dengan logat Papua pada saat mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Namun, senyum mereka sudah menenangkan hati dan terpancar dari sorot mata mereka.
 

Bluepacker Indonesia - Papua

Ah, menatap mata polos mereka seperti berkaca beberapa puluh tahun lalu ketika saya masih polos dan bermain kesana kemari tanpa memiliki ketakutan akan sesuatu hal. Selain keramahan orangnya, saya kangen dengan pancake.
 
“Pancake?”
 
“Iya ini pancake buatan Mama.”
 
Corina menunjuk ke arah dapur ketika makan siang. Mungkin karena ada beberapa orang asing ang tinggal disana, jadi makanannya pun disediakan berbagai jenis termasuk pancake tersebut.
 
“Cobain deh.”
 
Tanpa menunggu lagi, saya melahap beberapa potong pancake rasa cokelat. Rasanya sangat lezat sekali seperti direstoran hotel berskala internasional. Disitu kadang saya selalu merasa bahwa saya adalah orang yang selalu menerima banyak kebaikan dari orang lain dan kali ini saya menerimanya di Raja Ampat.
 

Bluepacker Indonesia - Papua

Rasanya tak rela jika saya harus meninggalkan Raja Ampat begitu cepat, namun setiap pertemuan harus ada perpisahan. Berat memang meninggalkan keindahan dan keramahan penduduknya. Apalagi setiap harinya saya isi dengan bermain di pantai dan menjelajah pepohonan di teluk Alyui. Apalagi setelah bermain di pasir dan berenang di tepian pantai, membuat saya tidak rela meninggalkannya begitu saja.
 
Sebelum pulang, kami sempat makan siang dan berpesan kepada Mama, sang juru masak untuk membuat pancake sebagai bekal perjalanan kami di kapal nanti menuju ke Sorong. Saya hanya mengharapkan satu atau dua buah pancake saja sudah cukup sekali.
 
“Ini Man pancake pesenan.”
 
Corina memberikan bungkusan plastik besar dengan lipatan kertas minyak didalamnya. Ternyata Mama memberikan bukan satu atau dua buah pancake, tapi 10 buah pancake yang masih hangat. Saya terharu sekali dengan kebaikannya. Sepanjang perjalanan dikapal, saya selalu menyanjung bahwa inilah pancake paling enak yang pernah saya makan.
 

Bluepacker Indonesia - Papua

Raja Ampat memberikan memori yang sangat indah. Walaun sudah sembilan tahun lalu saya ke gugusan pulau paling indah ini, tetapi saya masih sangat ingat setiap detail keindahan pantai, hutan, pulau, pelabuhan, penduduk, dan lainnya.
 
Sekarang ini, Papua menjelma menjadi salah satu destinsi yang sangat digemari karena banyak sekali hal yang bisa dilakukan salah satunya adalah menjelajah hutan yang masih rimbun dengan berbagai jenis tumbuhan yang sangat unik dan tidak ditemukan di hutan mana pun seperti di Jawa, Sumatera atau bahkan Sulawesi. Hutan ini menjadikan Papua sebagai destinasi wisata hijau di Indonesia. Jika orang lain menyebutnya demikian, saya lebih tepat menyebutnya sebagai Surga Hijau Di Indonesia Timur.
 

Bluepacker Indonesia - Papua

Apabila diberikan kesempatan kembali lagi ke Papua, saya telah memiliki beberapa wishlist destinasi mana saja yang harus saya kunjungi.
 

Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Ke Papua tak lengkap rasanya kalau tidak ke satu Taman Nasional yang mendunia ini. Hampir sekitar 90 persen Taman Nasional ini merupakan perairan dan memiliki banyak sekali jenis ikan dan ragam hewan laut lainnya yang menjadikan pemandangannya sungguh indah dan wajib dikunjungi.
 

Lembah Baliem

Lembah ini merupakan tempat tinggal dari 3 suku asli Papua yaitu Lani, Dani dan Yali. Suku Dani merupakan salah satu yang paling saya ingat, ketika mempresentasikan suku asli di Indonesia pada saat SMA. Dan yang paling mengagumkan adalah pakaian adat yang digunakan seperti koteka dan rumbai.
 

Danau Sentani

Salah satu alasan mengapa danau Sentani menjadi destinasi yang harus dikunjungi adalah danau ini merupakan salah satu yang terbesar di Papua dengan luas sekitar 9000 hektar. Dengan luasnya ini danau ini memiliki banyak ragam budaya dan kuliner sehingga menarik untuk menelusurinya.
 
Sebagai traveler, tak bijak rasanya untuk tidak menyuarakan bahwa berwisata pun kita harus bijak dan menjaga tempat wisata yang kita kunjungi. Sebagai contoh apabila kita mengunjungi suatu tempat maka jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun selain jejak.
 
Melalui tulisan ini saya juga selalu berpesan untuk  mendukung segala bentuk kegiatan untuk membuat Indonesia kembali lebih hijau terutama daerah Papua. EcoNusa selalu sejalan dengan tujuan travel blogger seperti saya untuk memajukan wisata dan potensi lokal terutama di Papua. Walaupun hanya dengan kata-kata, semoga masyarakat semakin mencintai wisata lokal terutama Papua dan memajukannya sebagai bagian dari kecintaan kita sebagai orang Indonesia.
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *